Facebook Twitter

Laporan Pasar: Industri Daging Sapi Asia Tenggara – Agustus 2018

by Dr Ross Ainsworth, 14 September 2018

Ross Ainsworth's SE Asia Report

For the Bahasa Indonesia version of this report click here  

Poin-Poin Utama

  • Harga daging sapi potong di Indonesia terus menanjak.
  • Harga di China tetap kuat terlepas dari merebaknya wabah penyakit African Swine Fever.
  • Semua mata uang di kawasan ini menguat dengan melemahnya dolar Australia.

 

Indonesia: Sapi potong steer, AUD $3,94/kg bobot hidup (Rp10.650 = AUD $1)

Harga sapi potong kembali naik di bulan ini dengan tingkat indikator baru dengan harga sapi potong steer dari lokasi penggemukan senilai Rp 42.000 per kg bobot hidup. Saya pernah mendengar harga bahkan mencapai Rp 44.000 di beberapa wilayah di Jawa Barat. Mungkin ada sedikit pengaruh dari perayaan Hari Qurban terhadap kenaikan harga ini, tetapi umumnya sapi Australia tidak dianggap cocok untuk perayaan keagamaan ini karena syarat hewan kurban adalah tidak boleh ada cacat seperti cap, penomoran, dan penandaan pada kuping sapi ataupun pengebirian. Namun, ada sejumlah kecil sapi Australia yang disembelih (dengan mematuhi standar ESCAS) sebagai hewan kurban karena ada kecenderungan dari beberapa kelompok yang menghindari kesemrawutan yang disebabkan oleh penyembelihan di halaman masjid mereka dengan mengontrakkan proses penyembelihan kepada rumah potong hewan terdekat, dimana mereka dapat menghadiri dan melihat hewan mereka disembelih dengan pengawasan agar sesuai persyaratan agama, tanpa bahaya atau kerepotan atau keharusan untuk membersihkan kembali lokasi setelah penyembelihan. Daging sapi dan jeroan dibersihkan lalu dikirim ke masjid yang kemudian akan dikemas dan didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan.

Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa kenaikan harga sapi hidup baru-baru ini belum menunjukkan peningkatan nyata terhadap harga daging sapi di pasar tradisional. Sebaliknya, beberapa harga di supermarket sudah naik dramatis. Foto di bawah ini diambil di salah satu jaringan supermarket besar di Jakarta, di mana harga daging kelapa (knuckle) pada akhir Agustus mencapai Rp199.000 per kg atau hampir 25% lebih tinggi daripada bulan sebelumnya.

 

Sementara pada 6 bulan pertama di tahun 2018 menunjukkan rata-rata ada 35.000 ekor sapi hidup yang diimpor per bulan, angka untuk bulan Juli menjadi 60.000 ekor sementara untuk bulan Agustus berjumlah 70.000 ekor. Lonjakan ini adalah untuk mengisi kembali stok di feedlot setelah bulan Ramadhan, Lebaran, dan perayaan Qurban, tetapi hampir pasti akan menghasilkan kelebihan sapi-sapi yang gemuk di bulan November/Desember nanti.

Membanjirnya arus masuk sapi ini perlu diimbangi dengan rata-rata arus keluar perbulan sekitar 30.000 ekor sejak September hingga Desember demi mencegah kelebihan pasokan. Mencapai keseimbangan yang tepat antara kekurangan dan kelebihan pasokan terbukti menjadi sebuah tugas yang agak sulit, dengan “jumlah yang tepat” berkisar sekitar 400.000-450.000 ekor per tahun, padahal jumlah total 500.000 ekor pun mungkin terlampau banyak dan akan mengakibatkan anjloknya harga.

Para pengamat industri masih melaporkan penjualan yang signifikan untuk sapi-sapi yang diberi makan dalam waktu singkat demi menjaga agar pelanggan tetap mendapatkan sapi dan menjaga arus kas agar tetap tersedia, tetapi hal ini hanya menuntun pada ketidakpastian yang lebih jauh ketika para importir mencoba untuk menghitung kebutuhan pembelian sapi mereka selanjutnya.

Gejolak yang terjadi dalam dua tahun terakhir sejak masuknya impor daging kerbau India akhirnya mengarah pada sejumlah restrukturisasi yang serius dalam sektor feedlot di Indonesia. Banyak perusahaan besar yang bergerak di sektor impor sapi hidup baru-baru ini melakukan perubahan signifikan dalam cara bisnis mereka. Langkah yang diambil termasuk:

  • Penjualan perusahaan – dalam kasus misalnya PT Elders Indonesia.
  • Pembelian usaha yang ada – PT Elders dibeli oleh sebuah perusahaan baru termasuk pemain feedlot yang ada, sebuah perusahaan ekspor Australia dan pihak ketiga dari luar sektor ini.
  • Penutupan infrastruktur kantor yang berbiaya tinggi dimana fungsi administrasi dikembalikan ke kantor feedlot.
  • Re-organisasi umum secara besar-besaran, perampingan dan penghematan.

Beberapa perusahaan masih meneruskan model bisnis mereka seperti sebelumnya tetapi dengan sangat cermat memantau panataan ulang sektor impor, penggemukan, pemrosesan dan distribusi dan mungkin akan segera bergabung dengan gelombang rasionalisasi seperti yang dilakukan pihak lainnya.

Sebuah supermarket di Jakarta yang menawarkan harga sekitar Rp 60.000 per kg (sekitar AUD$ 5,63) untuk sapi jantan besar dan sedikit lebih tinggi untuk sapi yang berbobot tubuh lebih rendah.

 

Foto ini diambil sehari sebelum hari raya Kurban: Ini hanyalah bagian kecil yang menawarkan domba, kambing dan sapi di sebuah lahan di dekat kantor Imigrasi di Jakarta Barat.

Vietnam: Sapi potong steer, AUD $4,08/kg (VND 16.900 = AUD $1)

Harga sudah stabil di bulan ini dengan indikator harga sapi steer sekitar Dong 69.000 per kg bobot hidup. Harga sapi steer di bagian Utara masih lebih tinggi dibandingkan dengan di HCM City. Permintaan dari importir maupun konsumen tampak kuat dengan kapasitas feedlot sekitar 50%. Melemahnya mata uang AUD $ akan mendorong para importir untuk mengisi kandang-kandang yang kosong meskipun harga sapi steer bakalan yang dikirim Darwin naik menjadi sekitar AUD$ 3,05 pada akhir Agustus, sehingga hal ini akan cenderung mengerem jumlah impor yang sangat besar. Harga daging sapi di pasar tradisional tetap stabil.

Foto: Isi paha belakang (rump) dari sapi impor Australia dijual di sebuah supermarket di Ho Chi Minh.

China: Sapi potong, AUD $5,35/kg (RMB 4,95 = AUD $1)

Harga dalam Yuan tidak mengalami perubahan sejak bulan lalu terlepas dari kenaikan kurs AUD yang terkait dengan melemahnya mata uang Australia terhadap hampir semua mata uang negara pelanggannya.

Pertanyaan besar di China saat ini adalah apakah wabah penyakit African Swine Fever (ASF) akan dapat dikendalikan ataukah akan terus merebak terlepas dari upaya pihak otoritas veteriner, dan apakah hal itu akan menghancurkan industri babi nasional.

ASF secara khusus adalah sebuah penyakit babi yang sangat berbahaya:

  • Disebabkan oleh virus dan tidak ada vaksin atau pengobatan apa pun yang dapat mengatasi atau menyembuhkannya
  • Satu-satunya pendekatan untuk mengendalikan penyakit ini adalah pemusnahan ternak babi dengan cara memotong kawanan ternak yang terinfeksi, kemudian dilakukan disinfeksi yang disusul dengan pengisian ulang stok ternak dengan sejumlah babi percobaan beberapa bulan kemudian, untuk menentukan apakah masih ada virus.
  • Untungnya, virus ini tidak berbahaya bagi manusia tetapi sangat berbahaya bagi babi dan menyebabkan tingkat kematian yang sangat tinggi.
  • Sifat yang membuat penyakit ini sangat sulit dikendalikan adalah bahwa virusnya dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama di lingkungan dan dalam produk babi olahan selama berbulan-bulan sehingga diperlukan karantina sangat ketat, baik terhadap hewan yang hidup maupun terhadap semua produknya.

Yang memperparah keadaan, kawasan Mongolia Dalam yang merupakan salah satu kawasan produksi utama ternak China, baru-baru ini mengalami wabah Anthrax dan mengalami kekeringan yang cukup panjang.

Para konsumen di China sangat waspada terhadap penyakit hewan apa pun karena peternak dan pedagang di sana terkenal biasa menjual produk yang berbahaya dan terkontaminasi. Orang-orang yang tidak memahami implikasi sesugguhnya dari merebaknya wabah ASF, akan beralih ke daging babi bermerek dengan reputasi baik atau beralih ke daging ayam atau daging sapi. Mengingat potensi pesatnya penyebaran ASF, perlu waktu sekitar satu bulan atau lebih untuk mengetahui apakah upaya pemerintah untuk mengendalikan penyakit ini membuahkan hasil atau tidak. Jika tidak berhasil, maka akan ada pengurangan besar-besaran terhadap persediaan daging babi ketika proses karantina dan pemusnahan dilakukan, yang berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap permintaan akan daging sapi dan ayam.

Sebagian besar pelanggan kita di Asia Tenggara adalah tentangga dekat China yang berarti ada potensi serius untuk penyebaran penyakit ini ke seluruh China dan ke seluruh wilayah tetangganya. Mengingat bahwa sebagian besar Asia Tenggara merupakan konsumen besar daging babi, hal ini juga dapat menciptakan gangguan besar terhadap pasokan dan permintaan daging di seluruh wilayah ini.

Agen saya juga menyebutkan bahwa harga domba sedang meningkat (Y22 per kg bobot hidup) sebagai akibat dari beberapa faktor dan diperkirakan tidak akan turun dalam beberapa waktu ke depan.

Artikel di bawah ini diambil dari Myanmar Times yang melaporkan dimulainya negosiasi pemerintah untuk menetapkan protokol bagi ekspor sapi hidup dari perbatasan utara Myanmar (Muse) menyeberang ke China (Ruili), di mana sapi-sapi ini akan disembelih. Artikel itu secara khusus menyebutkan tentang “China ingin secara legal membeli 1 juta ekor sapi dari Myanmar” Saat ini, banyak sapi yang tidak diketahui jumlahnya diselundupkan dari Myanmar ke China dan Thailand, namun melewati berbagai rute transit yang sulit, berbahaya dan mahal sehingga protokol yang sah secara hukum dengan semua prosedur karantina yang diperlukan yang dilakukan di perbatasan utara akan sangat masuk akal secara logistik dan komersial. Mampukah Myanmar memasok 1 juta ekor sapi per tahun? Sangat mungkin. Dengan jumlah kawanan sapi nasional diperkirakan sekitar 15 juta ekor dan populasi umat Buddha yang hanya mengkonsumi sedikit sekali daging sapi, penyediaan 1 juta ekor sapi dari jumlah sapi yang berlebihan

Filipina: Sapi potong, AUD $3,73/kg (Peso 38,8 = AUD $1)

Agen saya terus melaporkan kondisi perekonomian yang menguntungkan di Filipina dengan pasokan berbagai sumber pangan melimpah dengan harga yang terjangkau. Harga daging sapi  dan sapi hidup di pasar tradisional sedikit naik dengan harga indikator sapi potong steer naik dari 140 di bulan lalu menjadi 145 Peso per kg di bulan Agustus.

Thailand: Sapi potong steer, AUD $3,99/kg (Baht 23,8 = AUD $1)

Harga sapi jantan dan sapi steer (sapi jantan muda kebiri) naik sedikit bulan ini di mana harga sapi steer dijual THB 94 dan sapi jantan THB 97, jadi saya menggunakan THB 95 sebagai indikator untuk bulan Agustus. Agen saya melaporkan bahwa Myanmar sedang mengalami banjir yang parah di wilayah timur sehingga membatasi ekspor sapi hidup dari Myanmar ke Thailand dan ini mungkin menjadi penyebab utama dari kenaikan harga di bulan ini.

Italia

Saya berkunjung ke Italia bagian utara pada bulan Agustus lalu dan mengambil foto di bawah ini, daging sapi yang dijual di toko daging setempat.

 

Foto: Penyajian daging sapi di sebuah toko daging di bagian utara Italia. Labelnya menyertakan lokasi kelahiran, penggemukan, pemotongan, pemotongan akhir dan potongan masing-masing bagian daging serta harganya. Izin perjalanan hewan juga dipajang di dinding toko daging untuk memberikan informasi kepada para pembeli tentang asal usul daging yang mereka beli. Harganya mirip dengan di Australia. Dan rasanya pun amat lezat!   

Australia

Tukang daging Australia selalu menyajikan penampilan terbaik dan kualitas daging sapi terbaik di dunia. Penyajian di Woolworths di Darwin pada bulan Agustus ini, memang sangat menakjubkan.

 

August 2018 price table

Angka-angka pada tabel ini dikonversi ke AUD$ dari kurs masing-masing negara yang berubah setiap harinya, sehingga harga aktualnya sedikit berbeda oleh fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang terus berubah. Harga dalam AUD$ yang disajikan di bawah ini hendaknya dilihat sebagai sebuah tren, bukannya harga persis masing-masingnya. Bila memungkinkan, daging potong yang digunakan untuk penentuan harga di pasar tradisional dan di supermarket adalah bagian knuckle/round  atau yang biasa disebut daging kelapa.

 

Location Date Wet Market

AUD$/kg

Super market

$/kg

Broiler chicken

$/kg

Live Steer

Slaughter Wt

AUD$/kg

Indonesia March 18 11.21 14.21 3.18 3.55
Rp10,550 April 18 12.79 No stock 3.41 3.60
Rp10,550 May 18 12.80 10.80 – disc 3.32 3.60
Rp10,500 June 18 12.85 No product 3.81 3.81
Rp10,650 July 18 12.21 14.83 3.57 3.80
Rp10,650 August 18 12.21 18.69 3.29 3.94
Philippines March 18 7.92 7.67 3.39 3.34
P39.7 April 18 8.31 8.06 3.45 3.53
P39.5 May 18 8.35 8.86 3.54 3.92
P39.7 June 18 8.06 8.44 3.52 3.52
P39.5 July 18 8.56 8.73 3.80 3.54
P38.8 August 18 8.89 9.15 3.87 3.74
Thailand March 18 9.88 11.52 2.88 3.91
THB 24.0 April 18 10.00 11.67 2.92 3.96
THB 24.1 May 18 9.96 11.62 2.90 3.94
THB 24.3 June 18 9.88 11.52 2.88 3.91
THB 24.6 July 18 8.94 11.38 2.56 3.74
THB 23.8 August 18 9.24 11.76 2.94 3.99
Vietnam HCM March 18 15.82 18.08 7.46 3.84
D17,400 April 18 16.09 17.82 7.59 3.91
D17,200 May 18 16.28 18.02 7.67 3.95
D17,100 June 18 18.12 17.66 7.89 3.98
D17,100 July 18 18.13 17.66 12.68 4.04
D16,900 August 18 18.34 17.87 7.99 4.08
China Beijing March 18 13.06 17.14 3.06 5.10
Y4.83 April 18 13.25 3.73 5.48
Y4.82 May 18 12.45 3.32 5.19
Y4.85 June 18 12.78 17.32 3.30 5.36
Y5.0 July 18 12.40 18.00 3.60 5.30
Y4.95 August 18 12.93 18.18 4.04 5.45
Shanghai March 18 16.32 21.22 4.49 5.10
April 18 16.15 21.95 4.55 5.38
May 18 16.60 22.41 4.56 5.19
June 18 16.91 22.27 4.54 5.36
July 18 16.80 21.60 4.00 5.20
August 18 16.16 21.80 4.44 5.25

 



Topics: , , ,

Related Stories

Reader's Comments


Comment

Leave a comment

(First Name and Surname Required) - read our Comment Policy

(Required)

(Required)