Live Export

Menggembalakan sapi bakalan di perkebunan sawit

Dr Ross Ainsworth, March 6, 2020

Ross Ainsworth's SE Asia Report

Versi bahasa Inggris klik di sini

Saya adalah salah satu pendukung paling antusias terhadap pembiakan sapi di perkebunan kelapa sawit, semenjak pertama kali saya melihat model operasi ini di Malaysia pada tahun 1980-an.

Dr Ross Ainsworth

Beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia telah melakukan uji coba selama beberapa tahun terakhir, di mana sebagian besar menunjukkan hasil positif dalam hal produksi, tetapi dengan pengembalian keuangan yang marjinal.

Untuk membiakkan sapi dalam jumlah yang cukup besar agar berdampak terhadap swasembada daging sapi di Indonesia, maka tingkat pengembaliannya harus sangat menarik. Namun sayangnya, meskipun secara umum positif, saya tidak percaya bahwa margin keuntungan yang dihasilkan cukup tinggi untuk mendorong penerapan model integrasi sapi-sawit ini dalam skala besar.

 

Sapi-sapi indukan di perkebunan sawit berkembang dengan baik jika ditangani dengan manajemen yang baik, tetapi margin keuntungannya belum cukup tinggi untuk mampu menarik banyak investor besar.

Perubahan terkini dalam model pengolahan daging sapi di seluruh Indonesia di kawasan pedesaan, memungkinkan untuk mempertimbangkan model baru penggembalaan sapi di perkebunan sawit, yang berpotensi menghasilkan tingkat produktivitas dan profitabilitas yang tinggi.

 

Pertama, di saat jumlah populasi sapi nasional masih statis dan berkembang lamban, jumlah sapi potong betina yang tersedia untuk pasokan normal daging sapi di pasar tradisional terus menyusut, akibat pesatnya peningkatan jumlah sapi potong jantan yang disiapkan untuk perayaan hari Idul Qurban. Data resmi pemerintah untuk tahun 2019 menunjukkan bahwa selama tiga hari perayaan Idul Qurban pada Agustus tahun lalu, ada 541.171 ekor sapi jantan yang disembelih di seluruh Indonesia. Mengingat kesulitan pelaporan di beberapa daerah, jumlah yang dilaporkan ini sangat mungkin jauh lebih rendah daripada jumlah aktual. Oleh karena itu,  jumlah sapi potong jantan yang tersedia untuk pasokan normal ke pasar tradisional hingga akhir tahun menjadi jauh berkurang, sehingga menyebabkan sapi-sapi betina terpaksa dipotong, sementara harga terus beranjak naik. Sebagian dari kesenjangan pasokan ini diisi oleh sapi impor dari Australia, yang disembelih di RPH yang sudah disetujui menurut standar ESCAS (Export Supply Chain Assurance System – sistem pemantauan kesejahteraan hewan Australia) yang telah diterapkan secara luas di seluruh Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Sapi-sapi yang diimpor dari Australia sekarang dapat disembelih dengan persyaratan ESCAS di lokasi yang sebelumnya tidak dianggap komersial. Pengelolaan sapi bakalan di perkebunan sawit harus mematuhi standar ESCAS, tetapi hal ini mestinya tidak sulit dilakukan karena hewan diawasi setiap hari saat mereka berpindah  ke area penggembalaan baru yang memungkinkan pemeriksaan akurat, dengan standar kesejahteraan dan peternakan yang tinggi. Penggemukan sapi bakalan steer (sapi jantan muda) Australia di perkebunan kelapa sawit di daerah terpencil di Sumatra dan Kalimantan, mendadak menjadi sebuah pilihan yang layak.

 

Parameter kunci yang menunjukkan bahwa pemeliharaan sapi steer berpotensi menguntungkan, antara lain:

  • Diketahui bahwa ADG (Average Daily Gain – pertambahan bobot badan harian) 330 gram per ekor per hari mudah dicapai oleh sapi-sapi betina dan sapi grower yang merumput di perkebunan sawit, sehingga dalam tempo 3 hari, seekor sapi steer mestinya dapat memperoleh pertambahan bobot badan sebesar 1 kg (atau lebih).
  • Biaya total per ekor per hari termasuk semua input untuk pengembangbiakan sapi betina sekitar Rp10.000, jadi mungkin membutuhkan hingga 3 x 10rb = Rp30.000 untuk mendapatkan pertambahan 1 kg bobot hidup. Biaya operasional untuk sapi steer tentu akan lebih rendah dari angka ini.
  • Beralih dari sapi indukan ke sapi steer berarti urusan pengkawinan, aborsi, kesulitan beranak, infertilitas sapi, mortalitas anak sapi, pemisahan sapi betina produktif, kegagalan induk, penyapihan, kesuburan pejantan, pemeriksaan kebuntingan, dan sebagainya tidak diperlukan dalam paket manajemen. Tingkat kematian rata-rata sapi steer di padang penggembalaan akan selalu jauh lebih rendah ketimbang sapi indukan.
  • Untuk sapi potong, nilai per kg bobot hidup di Kalimantan dan Sumatera, di mana hampir semua perkebunan kelapa sawit berada, setidaknya Rp45.000 (Rp50.000 di beberapa daerah) yang berarti ada margin keuntungan sekitar Rp5,000 per ekor per hari
  • Sapi bakalan steer tiba di Indonesia dengan bobot rata-rata sekitar 320 kg. Setelah dipelihara selama 1 tahun dengan pertambahan bobot 330 gram per hari, maka ada pertambahan bobot badan sekitar 120 kg, sehingga bobot hidupnya menjadi sekitar 440 kg.
  • Jika laba bersihnya Rp5.000 per hari, maka laba tahunan per ekor menjadi Rp1,825 juta atau AUD $ 198 (AUD $ 1 = Rp9.200).
  • Jika kelompok sapi steer yang mudah dikelola, yang terdiri dari 250 ekor sapi dapat digembalakan bersama-sama, maka pengembalian bersih tahunan untuk kelompok tersebut mestinya berkisar sekitar Rp456 juta (AUD $ 49.500).
  • Dengan luas perkebunan rata-rata sekitar 5.000 hektar dan rata-rata kapasitas tampung satu ekor sapi steer adalah 5 hektar, artinya perkebunan mungkin dapat menampung rata-rata hingga 4 kelompok sapi yang masing-masingnya terdiri dari 250 ekor, dengan tingkat pengembalian bersih tahunan mendekati AUD $ 200.000.
  • Pemasaran mestinya tidak menghadirkan tantangan yang berarti, sebab sapi dapat dijual sepanjang tahun, diangkut dengan truk-truk kecil ke pasar yang lapar. Operasi penggembalaan 1.000 ekor sapi steer perlu menjual rata-rata kurang dari 3 ekor per hari.
  • Sejak bunting hingga penjualan hasil keturunan sapi yang sudah dewasa, dapat memakan waktu mendekati 3 tahun untuk proyek pembiakan, sedangkan pembelian sapi bakalan hingga saat penjualan sapi steer gemuk, akan membutuhkan waktu mendekati 12 bulan atau kurang dari itu.

Sapi grower merumput di perkebunan kelapa sawit. Manajemen minimal dengan tujuan untuk mempercepat kinerja melalui peningkatan biaya penyediaan suplemen yang efektif.

ini adalah sel penggembalaan setelah sapi merumput sehari sebelumnya. Gulma tanaman berkayu akan disemprot di lokasi dalam beberapa hari ke depan. Pohon-pohon ini berusia sekitar 5 tahun. Sapi akan dibawa kembali ke sel ini dalam waktu sekitar 70-90 hari.

Sapi bakalan merumput sel sebelahnya, sehari setelah foto di atas. Kelompok campuran sapi-sapi yearling jantan dan betina hasil keturunan dari sapi impor Australia ini memiliki pertambahan bobot badan 600 gram per ekor per hari dengan tingkat pemberian suplemen harian yang rendah

Jika seekor sapi bakalan impor bertumbuh 500 gram per hari, maka dalam 2 hari bobot sapi ini akan bertambah 1kg ,atau senilai Rp45.000. Mengurangi biaya 2 x Rp10.000 akan memberikan margin keuntungan sebesar Rp25.000 dalam 2 hari. Rp12.500 per hari atau AUD $1,35 per hari x 365 = AUD $ 492 per tahun atau $ 123.000 per tahun untuk satu kelompok sapi yang terdiri dari 250 ekor. Begitulah kira-kira. Tetapi ingat, bahwa tingkat kinerja seperti ini hanya dapat tercapai di perkebunan yang dikelola dengan sangat baik, dengan kondisi lahan penggembalaan yang mapan. Kuantitas dan kualitas rumput biasanya hanya mungkin dikembangkan setelah 2 atau 3 tahun penggembalaan sel secara efektif dan penyemprotan di tempat terhadap gulma berkayu.

Salah satu kekhawatiran utama para pemilik perkebunan yang menggembalakan sapi di perkebunan mereka adalah bahwa sapi mereka berisiko terhadap pencurian karena sapi akan berada di perkebunan semalaman, yang membuat pencuri akan memiliki kesempatan mencuri sapi. Data yang dikumpulkan selama tiga tahun terakhir dari proyek-proyek yang menggembalakan sapi di perkebunan sawit di daerah terpencil di Sumatera dan Kalimantan menunjukkan bahwa meskipun hal ini masih menjadi faktor risiko, namun pengalaman aktual di lapangan menunjukkan bahwa risiko ini sangat kecil dan dapat diterima. Biaya keamanan yang efektif sudah termasuk dalam total biaya Rp10rb per hari untuk sapi bakalan.

Harus diakui bahwa model ini tidak menyelesaikan masalah pengembangbiakan sapi di Indonesia dan masih membutuhkan impor, tetapi dapat memberikan nilai tambah lokal di daerah terpencil dan berpotensi memotong biaya herbisida untuk perkebunan kelapa sawit. Meskipun peternakan usaha kecil tidak akan terlibat langsung dalam pengelolaan sapi, ada kemungkinan untuk memasukkan usaha kecil ini dalam proyek dengan mengoperasikan model inti-plasma, di mana kelompok peternak usaha kecil lokal dapat dibiayai untuk memiliki  sejumlah sapi, sementara perusahaan perkebunan mengelola operasi penggembalaan dan berbagi keuntungan. Tantangan yang terkait dengan kesejahteraan sapi steer tidak signifikan dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi dalam memelihara sapi indukan.

Karena permintaan sapi jantan yang khusus untuk perayaan keagamaan Idul Qurban akan meningkat seiring dengan meingkatkan pendapatan masyarakat Indonesia, maka jumlah sapi jantan untuk dipotong sebagai pasokan harian normal daging sapi segar akan terus menyusut. Opsi pemeliharaan sapi steer di perkebunan sawit ini berpotensi untuk menyelesaikan banyak, jika tidak semua, masalah pasokan daging sapi segar pemerintah Indonesia di daerah yang lebih terpencil dengan model yang menguntungkan, di mana peternak usaha kecil dapat berbagi keuntungan dan risiko kesejahteraan hewan dan keamanan dapat ditekan minimal. Di saat perusahaan perkebunan yang tidak familiar dengan manajemen sapi mencari cara terbaik untuk melaksanakan operasi peternakan, ada peluang bagi produsen dan eksportir Australia untuk memberikan dukungan, pelatihan, dan kemungkinan partisipasi komersial dalam bisnis. Produsen ternak kawasan Australia Utara memiliki pengalaman sepanjang hidup mereka tentang penggembalaan sapi di daerah-daerah terpencil dan mereka mungkin akan senang melihat sapi bakalan mendapatkan pasokan pakan hijauan segar setiap hari, sepanjang tahun.

 

 

HAVE YOUR SAY

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your comment will not appear until it has been moderated.
Contributions that contravene our Comments Policy will not be published.

Comments

Get Beef Central's news headlines emailed to you -
FREE!